Halaman

Kamis, 12 Januari 2012

Tak Hingga


I
Malam mulai menelangkup, bu
Menebar dingin yang mencibir kulit-kulit rapuhku
Hangatku adalah belaian kasih lembut dalam dekapanmu

II
Alif, ba, ta,
Suaramu serak menuntun jemariku
Menyingkap tirai yang sebelumnya tak kupahami
‘Dia selalu ada, nak. Selalu ada.’

III
Bu, apa ini??
Riuh gaduh yang ada di sini membuatku dalam titik ambang
Kiri, kanan, depan, belakang
Menawarkan anggur-anggur termanisnya untukku
‘Pegang tangan ibu, nak. Langkahkan kaki kita bersama
Ini adalah perjalanan. Ibu menemani langkahmu. Selalu’

IV
Bu,
Satu,dua, tiga hingga tak hingga
Kau adalah segalanya bagiku
Biar kubisikkan rasa ini melalui celah bintang hanya untukmu,
;Untukmu

Jakarta, 15 Desember 2011    
Rosika Azahra

*Luv you mom *

Puisi ini pernah diikutkan dalam event "Sparkling Ibuku Adalah" dalam menyambut hari Ibu 22 Desember 2011.
 

Rabu, 11 Januari 2012

Tentang Cerita Senja



Bagiku senja adalah cerita
Tentang aku yang berkelana di rimba kata
Memungut remahan-remahan kata yang tercecer di setiap sudut rimba

Senjaku adalah ubi ungu yang kupanen untuk penantian Chinderella dalam balutan setia
Juga tentang lollypop yang mampu menyihir lekuk mataku dalam perhelatan riuhnya tanah-tanah basah yang meraja
Atau malah tentang lelaki berpeci butut yang gigih dalam memperjuangkan apa itu arti hidup

Dan dalam senjaku
sebuah rasa merona semu
mengartikan gejolak-gejolak kata yang beradu
Menunggu tangan sang dayang istana untuk meramunya, merdu
Lalu menyajikannya dalam piring bunga-bunga yang memadu

Jakarta, 11 Januari 2012
Rosika Azahra

Senin, 19 Desember 2011

BOM


Kini, biar kuteriakkan padamu dengan lantang bahwa Aku Membencimu!! Aku ingin mengakhirimu dengan sekali ledakan dari sebuah bom yang aku rakit sendiri khusus untukmu. Ya, khusus untukmu sampai kau hancur berkeping-keping hingga tak bersisa.
Kau. Kau yang slalu membuat tubuhku menggigil di sebuah pojokan sunyi dengan bibir yang biru dan bergetar. Kata-katamu memasungku, melumpuhkan titik syaraf semua tubuhku. Dan aku tergugu dalam sebuah ketakutan. Brengsek!!.

***
"Bodoh, penakut, terus saja kau begitu, dasar tak berguna. Pecundang!!!"
kata-kata yang kau lantangkan itu hanya sebuah pisau tumpul bagiku tapi itu mematikan. Ya, aku tak terlalu menghiraukannya tapi perlahan, benar-benar melumpuhkanku!!
"Hahaha. . . " dan kau semakin tertawa. Tertawa mengejekku yang semakin kau permainkan, aku semakin terkunci.
Hingga saat ini aku membiarkan tubuhku terkungkung di sebuah pojokan dengan tubuh menggigil dengan bibir biru yang menggetar. Dan hanya melayang-layangkan pikiranku ke suatu waktu yang tak beraturan. Masa yang entah. Tentu, masih ditemani tawa membahana yang memekakan telingaku dari suara setan milikmu.

***
Aku semakin menggigil. Menggigil yang mengulum takut. Hingga pikiranku berada pada sebuah memori tentang sebuah kata sederhana, "hidupkan tombol on, maka semuanya akan menyala"
"Hahahaha. . . " tawaku menukik keluar mengalahkan suara setanmu itu.
Dan seperti sebuah mesin yang diperintah, pikiranku mengambil komando. Perlahan, perlahan dan perlahan, tubuhku menghangat. Api serasa meletup dahsyat dalam tubuhku. Hahaha. . Sebentar lagi kau akan hancur. Lihatlah!! Aku akan merakit bom terdahsyat hanya untukmu. Bom yang hanya menghancurkanmu saja tanpa menghancurkan sekitarnya. Hah. . Aku ini masih mempunyai nurani, tau!! . Yang aku inginkan hanya dirimu.
(*)

"Mari menset pikiran kita supaya semuanya bisa bergerak, kau adalah pengemudi ulung. Jalan-jalan yuuuk!!! Eaaaaa. . . "
Bismillah. . . Semoga Allah slalu memudahkan kita dalam bergerak. . :)

Kamis, 03 November 2011

Sepasang Pupil di Padang Sabana



Oktoberku  mendendangkan nyanyian yang mengundang asma asmaraku bersuara
Ketika sepasang pupil  menyudut  di sebuah altar padang Sabana
Bersama angin segar menyimpulkan sensorik warna yang kemudian menyemayamkan zigot-zigot rasa dalam cawan hati merah membara

Kau datang dengan tentakelmu  yang menceracau gulma-gulma tak berasa
Hingga perlahan mencungkil sedikit demi sedikit epidermis yang tlah kubangun kokoh dengan tembok egoisme dari semburat kata yang bernama cinta

Ingin kukatakan padamu
Kenangan pupilmu telah bersemayam lembut dalam setiap jengkal simpul-simpul syaraf memoriku
Menceracau sembari mengiangkan aroma Sabana yang hijau membahana

Dan Inikah yang kemudian mereka katakan sebagai  Cinta Pertama??

Jakarta, 29 Oktober 2011
Rosika Azahra


Puisi ini puisi yang diikutkan dalam event mingguan Unsa dengan tema " Puisi Bio " dan  alhamdulillah masuk top 4. Meskipun gak juara, hmmm... tetep semangat aja deh...:)

Selasa, 01 November 2011

Sebuah Proses



Tapak jejak sedang kau lalui. Jangan pernah khawatir, karena akan ada berbagai rute yang akan menjadi pengantarmu untuk mencapai sesuatu yang kau impikan, sesuatu yang berarti. Yang bisa kau fahami, yang bisa kau renungi, yang bisa menjadikanmu manusia yang bijaksana.

Jangan kau takut dengan jalanan terjal, karena ia akan mengajarkanmu bagaimana kau harus hati-hati dalam meniti. Atau jalanan yang berkelok. Jika kau rasakan, cobalah, suatu hari nanti kau akan terbiasa. Atau malah semuanya akan menjadi sebuah cerita indah untuk kau ceritakan nanti.

Semuanya adalah proses, dan akan terus menjadi proses. Sampai kau benar-benar faham tentang proses itu.
Hanya satu, tersenyumlah. Bahwa ada Allah yang selalu mencurahkan kasihsayang-Nya pada hamba-hambaNya.

Selamat Berjuang ...!!!!

Tak Penat Merajutnya



Pada isyarat apa aku mulai merenda?
Tentang semua yang slalu saja mengikis rasa

Aku tau, rajutan benangku belum sesempurna permata
Bahkan yang kurasa hanya peluh air mata yang membahana

Aih.. Aku tetap akan merajutnya
Terus merajutnya
Tak penat untuk merajutnya
Dan selalu merajutnya
Hingga kau dahaga
Akan rajutan peluh penuh makna



Jakarta, 29 Oktober 2011
Rosika Azahra

Nyanyian Reranting Kering




Aku tau, aku hanya sebongkah nyanyian kecil yang bernyanyi menggemakan reranting kering
Rinduku terselip di sana, diantara ketiak pohon yang entah mungkin tak kau tau tentang aku yang selalu menanti tatapan purnama mata kita

Apakah kau seperti aku juga? lama tak bersua bahkan rona-rona semburat jinggapun kini tlah samar dalam hamparan kulit-kulit lupa

Duhai engkau yang tlah lama tak bersua,
Apakah memang jarak penghalang rindu kita?
Ataukah ego telah berlaga menutupi sesuatu yang kita sebut saudara?

Berteriaklah sekencang-kencangnya, jika semuanya masih ada
Berteriaklah...!!!!
Hingga mengguncang kaca-kaca pemantul rasa

Selembar,
Hanya selembar oase rupa yang aku temukan di sana
:kita tlah dewasa

Lalu??
Biar semuanya berbicara
Aku menunggu loncengmu menggema


Jakarta, 27 Oktober 2011
Rosika Azahra

Untuk Saudariku yang tlah lama tak bersua. :(