Halaman

Minggu, 01 Juli 2012

My Antologi : Ketika Binatang Bicara Cinta



 Telah Terbit :

Judul : Ketika Binatang Bicara Cinta
 
Penulis : Diba Azzukhruf, Dee Ann Rose, Rusmin Nuryadin, dkk
 
Jmlh Hal : v + 107 hlm ; 13x19 cm
 
ISBN : 978-602-18292-7-1
 
Harga : 30.000 (belum ongkir)
 


CARA PEMESANAN :
Ketik: KBBC # NAMA LENGKAP # ALAMAT LENGKAP # JUMLAH # NO TELP
Kirim ke : 085732631400
Nanti Anda akan mendapatkan SMS No.Rek dan jumlah yang harus dibayarkan.
--__--
Gak percaya kalau binatang bisa bicara? Apalagi jika bicara tentang cinta. Ada lho.... Yuk cek sinopsisnya...
"Dua Beda"

*Diba Azzukhruf

Adakah yang bisa mengalahkan keterpesonaanku padanya? Aku menyadari keabnormalan yang menyalahi kodratku. Tapi tetap saja! Dia kutemukan seorang diri di balik belukar sungai, sedang menangis dan makin menangis ketakutan melihatku.

“Tenanglah,” ujarku. Tubuhnya bergetar menahan gelombang air, keelokannya kian menambah kekagumanku pada bangsa Flagtail characin.
“Mengapa kau bisa seorang diri di sini? Mana kawananmu?” tanyaku. Ia diam, mungkin takut. Aku mengerti akan predikatku sebagai predator amazon. Ada rasa yang tak biasa, aku ingin bersamanya.
Lama-lama takutnya mulai menyirna. “Lumi,” ia menyebut namanya. Ia bercerita arus sungai yang meluap kemarin yang membuatnya sampai ke area kekuasaan piranha. Ia pun bersembunyi dan takut berenang pulang.
“Spevu, sedang apa kau di situ?” aku terkejut dan melihat dua temanku mendekatiku. Gesit, Lumi langsung bersembunyi.
“Mencari makanan, kenapa?”
Mereka menatapku curiga, sesaat. “Jika kau menemukan daging, jangan lupa berbagi dengan yang lain. Heran, tak ada ikan yang datang ke wilayah kita!”
Aku mengangguk, lalu mereka pergi. Segera kudekati lubang persembunyian Lumi.
“Jangan takut, aku melindungimu.”
“Spevu, mengapa kau baik padaku? Kau adalah piranha dan bukannya pasti senang bila melihat ikan sepertiku.”

Aku terdiam. Haruskah kukatakan kalau aku telah mencintainya? Kecantikannya sangat menyihirku dan membuatku lupa bahwa aku dan dia tidaklah sama.

(BERSAMBUNG)
............. Baca kisah selanjutnya ditambah 43 cerita fabel lainnya dalam buku "Ketika Binatang Bicara Cinta"
“Ketika Binatang Bicara Cinta” memuat 43 cerita tentang kehidupan dan kisah cinta para binatang yang disajikan dalam bentuk fabel untuk orang dewasa. Setiap cerita sarat akan pesan moral, yang disampaikan secara santun, dengan kisah yang sangat menarik dan menghibur, serta dilengkapi dengan 43 ilustrasi gambar yang diciptakan oleh Rana Wijayasoe, untuk menghidupkan cerita yang dipaparkan.

Ada karyaku juga loh di sana. "Cinta, Cinta, Oh... Cinta."

Kamis, 07 Juni 2012

Ayam Goreng dalam Lingkaran



Ayam goreng itu berkilauan
Menyembul dari sebuah wadah styrofoam yang silau terkena mentari yang menantang


Di bawah daun-daun yang terkantuk oleh gumam angin
Dalam lingkar yang menguat sebuah ikatan
Ada berjuta kata terungkap
:Persaudaraan


Semangat adalah satu amunisi yang mampu membumbungkan mimpi bersama
Harapan bersama. Tekad bersama.
Hidup kita, langkah kita adalah sebuah arti!!
Bahwa kita adalah para pejuang mimpi
Yang tak lelah dan tak akan lelah untuk terus meniti.


Ayam goreng itu berkilauan dalam lingkaran
Mengundang iri pada kucing-kucing yang kelaparan
Mengungkap sebuah arti perkenalan.




Jakarta, 03 Juni 2012

Puisi ini saya persembahkan untuk teman-teman pramuda 16 FLP Jakarta. Terimakasih untuk momentum 
03 Juni 2012 nya :D

Rabu, 06 Juni 2012

Senja di atas Kereta

Kereta berderit
Membumbungkan hitam asap yang mencapai langit
:Senja meriap-riap

Di atas kereta
Sawah-sawah berjalan
Rumah-Rumah berjalan
Pohon-pohon berjalan
Aku, terbawa arus kereta

Senja melimbungkan sekeping ide mimpi
Melaju bersama deritan kereta
Lalu melarung bersama sawah, rumah, pohon yang masih saja berjalan

Di atas kereta
Kulihat mimpi itu duduk diantara gerbong-gerbong
Harum mewangi senja menggembungkannya
Besar dan semakin besar
Hingga menutup semua permukaan kereta


Jakarta, 02 Juni 2012
Sudut Inspirasi

Kamis, 24 Mei 2012

Perekat Bernama Cinta




Judul Buku     : Cinta itu Indah, Friend!!; Serial The Twin Oriole
Penulis            : Afifah Afra Amatullah
Penerbit          : Eranovfis
Tahun Terbit    : 2009
Tebal Halaman : X+128 hlm.


Cinta, selalu saja ada cerita tentang satu kata ini. Apalagi berhubungan dengan remaja. Cinta bukan berarti harus jatuh pada cinta lawan jenis saja. Dalam artian umum cinta adalah suatu bentuk kasih sayang pada sesama, entah itu kepada orang tua, kepada adik atau kakak, kepada teman, kepada hewan, kepada tumbuhan atau juga malah cinta teragung cinta pada Tuhan. Tentu, dengan adanya cinta, sebuah cerita akan terasa indah.

Afifah Afra Amatullah, mengemas sesuatu bernama cinta dengan sangat apik. Jika pada umumnya cinta remaja itu diartikan cinta pada lawan jenis saja. Cinta di sini penulis artikan sebagai sebuah bentuk kasih sayang pada sesama. Pada seorang teman.

Terceritalah, sekelompok siswa SMU Pahlawan yang sedang melakukan perkemahan di hutan Gedong songo. Dan seperti biasa, dalam acara-acara seperti itu selalu saja terjadi yang namanya perpeloncoan. Adalah Trisna Syailendra, sang Pradani yang mempunyai karakter tomboy, bossy dan keras kepala. Dan Luthfie Rahma Siregar, gadis berjilbab yang menjadi salah satu anggota gugus depan SMU Pahlawan. 
Rahma yang lembut tapi tegas, berani jika ada suatu hal yang dirasa tidak sesuai pada tempatnya, menjadi incaran para seniornya. Si ‘Biang Kerok’ begitulah julukan Rahma di mata para seniornya. Hingga suatu ketika Trisna cemburu akan kedekatan Rahma dengan Dion - pemimpin tertinggi Dewan Ambalan- akhirnya merencanakan sebuah rencana untuk membuat Rahma kapok. Trisna membawa Rahma masuk hutan. Sebenarnya Trisna benar-benar memastikan jika hal itu tidak terlalu membahayakan dan hanya sebatas membuat Rahma kapk saja. Tapi ternyata rencana Tris membuat keduanya masuk dalam sebuah masalah besar. Sebuah auman harimau membuat keduanya tersesat.
Dan untuk selanjutnya mereka disekap oleh  dua orang  buronan polisi. Dari sinilah kedekatan mereka mulai terjalin. Trisna yang galak, tak lagi bersikap demikian. Justru selaku kakak kelas yang tentunya lebih dewasa, Trisna benar-benar menjadi pelindung Rahma. Mereka berjuang bersama untuk bisa keluar dari masalah yang sedang mereka hadapi. Ah, di mana-mana, cinta itu indah, Friend!!

Buku ini menyajikan konflik yang benar-benar membuat penasaran pembacanya. Berdebar-debar dalam mengikuti alurnya. Cerita remaja yang tidak lagi berbicara cinta lawan jenis. Tapi cinta yang benar-benar diberikan untuk sesama makhluk-Nya. Bahasa yang disajikan pun begitu khas dengan unsur remaja. Banyak hal-hal yang bisa kita jadikan sebagai pembelajaran dalam buku ini, terutama untuk para remaja.

Minggu, 20 Mei 2012

Sharing Saring : Tatapan Maut untuk Adit


Adit yang sudah mulai bisa bergaya :)
Hmm, lagi-lagi hari ini aku harus jagain Radit lagi. Sebenarnya gak apa-apa sih, aku senang bermain sama Radit. Radit itu anak yang aktif  banget plus juga sangat-sangat ngegemesin. Tapi satu yang membuat sedih, Adit belum lancar ngomongnya, hiks. Semoga ngomongnya cepet lancar ya, nang.

Yang bikin kesel hari ini adalah Adit yang datang dengan menangis. Ampuun deh, kalau ngadepin anak yang satu ini dalam keadaan menangis, hffftt.. repot!!

Semua barang rasanya hampir ia banting dan lempar. Ditambah lagi nangis sambil teriak-teriak yang sangat kencang. Hiks, malu euy sama tetangga. Bahkan ada yang sampai ngeledek juga, “ gak nangis lagi, Dit?” heheh... aku yang berlaku sebagai tantenya hanya bisa nyengir kelinci. Jiaaah kelinci... biarinlah biar sedikit terlihat unyu.

Lumayan lama Adit menangis. Tantenya sampai bingung harus ngapain. Mau mukul Adit, nyubit Adit, jitak Adit, jewer Adit... huhuhu, owgh tidak!! Tantenya ini kan baik hati, tidak sombong dan rajin menabung pulak. Plakk!! Apaan deh...

Akhirnya aku mencoba untuk mengalihkan perhatian Adit. Katanya, mengalihkan perhatian pada anak-anak itu 100 kali lebih baik daripada melakukan tindak-tindak kekerasan. Dan ya!! Aku pun mencoba mengalihkan perhatiannya. Kadang ke mainanlah, kadang ke gambar lah, kadang ke susu lah dan yang lainnya. Tapi dasar Adit, niat baik sang tante malah diteriaki sekenceng-kencengnya, sambil dilempari bermacam-macam barang. Duuuh....

Dan alhasil, karena sudah saking keselnya, aku pun mengeluarkan jurus ampuhku. Apa itu?? Tatapan maut!! Ya, tatapan maut. Aku menatapnya lekat-lekat dengan memasang muka semarah-marahnya. Tanpa bergeming sedikitpun. Tak peduli Adit yang teriak-teriak. Tak peduli bagaimanapun reaksi Adit. Yang aku fokuskan adalah matanya. Ya, matanya. Dan perlahan, tangis Adit mulai reda. Perlahan juga Adit mau beranjak ke tempat tidur. Lalu meminta susu. Ini masih dalam sesenggukan. Tapi lumayanlah tidak terlalu. Dan akhirnya Adit pun tertidur.

Hfft.. ternyata bermain sama anak kecil itu harus ekstra sabar ya. Aku harus bisa belajar sabar. Terutama untuk anak kecil. Hiks, itung-itung latihan menjadi seorang Ibu. Hihi ....

Senin, 14 Mei 2012

Mata Pelangi


i
Selalu, dua jiwa bercuap pelangi tatkala habislah rintik
Bahwa pelangi, mengucap secercah binar lengkung
Itulah kau
Dengan mata yang berbinar merekah pelangi
Katamu, “mewarni selalu indah”
Tapi yang kurasa kini hanyalah sepi

ii
Dalam senja yang mengeja cericit pipit dalam rintik gerimis
Matanya mengalun wicara
Mengerling tujuh warna pelangi
Katanya, “mewarni selalu indah”
Aku bisu. Terpaku teringat kau

iii
Kelam, mungkin memang kelam
Satu sisi dalam sama merah darah
Menyisa sepi
Tapi kemudian aku tau
Bahwa, “mewarni akan selalu indah”
Itu kau dan kini adalah dia.
Yang  sama
Tapi tak serupa
: mata pelangi

Jakarta, 12 Mei 2012
-Rosika Azahra-

Minggu, 06 Mei 2012

Kacamata untuk Emak



“Wa annallaaha yahdii man yuriid...,” suara Raka nyaring diikuti suara emak yang terbata-bata membaca ayat ke-16 surat Al-Hajj. Tanpa dikomando, Raka kemudian mengurangi kecepatan bacaanya, mengimbangi bacaan emak.

Emak sangat rajin mengaji. Ba’da magrib, Isya, Subuh, rutinitas itu selalu beliau kerjakan tanpa alpa. Tapi sayang sudah satu bulan ini ada yang mulai dirasakannya. Beliau kadang mengeluh bahwa tulisan-tulisan di Alqur’an sudah agak samar di matanya. Mungkin inilah yang dinamakan penyakit sepuh. Penyakit yang sering hinggap pada seseorang yang tengah menginjak usia lanjut. Dan ternyata benar, setelah diperiksa ada masalah dengan mata emak. Emak sudah mulai terserang presbiopi.  Beliau harus membeli kacamata. Tapi apadaya, emak tak punya uang untuk membelinya.

Beberapa kali emak terlihat menangis. Bacaan yang biasanya lancar, kini malah amburadul tak karuan.  Raka tak kuasa melihatnya. Maka setelah itu, Raka menuntun emak membaca Al qur’an. Untunglah Raka selalu belajar mengaji di masjid gang sebelah. Jadi, Ia pandai untuk membimbing emak.

“Shadakallahul adziim,” Raka mengakhiri bacaannya, tentu dengan masih diikuti suara emak.

“Emak habis ini istirahat aja dulu, pasti emak cepek seharian tadi bantu-bantu di rumah pak Haji Idris,” saran Raka sembari membenahi Al Qur’an.

“Iya lek, hari ini emak capek sekali. Tapi nanti mau nunggu shalat isya dulu ya, uhuk... uhuk...”
Raka mengangguk. Dalam hati kecilnya ada rasa  perih melihat emak yang sudah mulai sakit-sakitan. Beliau memang bukan Ibu kandung Raka, tapi kasih sayang yang diberikan emak kepada Raka sungguh membuat Raka menyayangi emak lebih dari siapapun.

Ketika itu Raka masih berumur 8 tahun. Dari kecil Raka tinggal disebuah panti asuhan. Untuk Ibu dan ayah kandungnya, Raka sendiri tak tahu bagaimana rupa mereka. Dalam umurnya yang masih terbilang amat belia itu, Raka  pergi meninggalkan panti. Untuk alasannya sendiri, Raka belum tahu persis apa yang benar-benar mendorongnya untuk melakukan hal senekat itu. Ia selalu takjub melihat kehidupan jalanan. Maka, meski masih belia Ia akan kuat memegang dan memperjuangkan apa yang diinginkannya itu.

Jadilah Ia menjadi anak jalanan, makan entah dari mana saja. Kadang menjadi kuli pasar, kadang menjadi tukang cuci piring, kadang juga menjadi pengamen. Yang pasti satu tekadnya, dalam keadaan apapun ia tak akan menjadi pengemis atau pencuri. Lebih baik menjadi tukang sapu daripada mengemis. Begitulah tekad Raka cilik..

Hingga akhirnya bertemulah Raka dengan emak. Waktu itu  Raka tengah  memegangi perutnya yang kesakitan. Dua hari ia tak makan. Emak yang baik, lalu mengajaknya ke gubuk sederhananya. Keadaan emak tak jauh berbeda dengan Raka. Emak pun bekerja serabutan. Kadang mencuci baju di tetangga, kadang mencari bekas-bekas botol aqua atau apa saja. Ternyata emak tinggal sendiri, ketika Raka menanyakan di mana keluarga yang lainnya, emak hanya menunduk , ada bulir-bulir air mata yang terjatuh ke pipinya. Raka pun tak berani menanyakan hal tersebut lagi pada emak. Dan emak yang memang hidup sendiri meminta Raka untuk tinggal bersama di rumahnya. Tadinya Raka ragu, tapi melihat emak yang memang benar-benar sendiri, Raka pun tak tega untuk menolaknya. Toh, selama ini juga dia tak punya tempat tinggal.

Ternyata emak sangat baik. Selalu menyiapkan sarapan. Selalu menyuruh Raka untuk mengikuti sekolah alam sejenak yang diadakan oleh salah satu LSM dalam rangka pembinaan anak-anak jalanan. Selalu mengingatkan Raka untuk shalat lima waktu dan tak lupa pula selalu meminta Raka untuk ikut belajar mengaji di mushala gang tetangga.

Ah emak begitu baiknya dirimu, bathin Raka dalam hati. Pandanganya tak lepas dari emak yang menerawang ke luar rumah. Entah apa yang sedang dipikirkan wanita baya itu.

***

Crek crek...Raka menggoyang-goyangkan celengan ayamnya untuk melihat sudah seberapa banyakkah tabungan miliknya. Ah, nampaknya  sedikit lagi. Raka tersenyum ceria. Raka benar-benar tak sabar agar celengan itu benar-benar  penuh.  Raka ingin membelikan kacamata untuk emak. Ia ingin melihat emak lancar membaca Al Qur’an.. Bukan, bukan karena Raka telah lelah menemani emak membaca Al Qur’an. Tapi justru karena Raka ingin melihat  senyum emak saat membacanya. Emak selau rajin membaca dan mentadaburi Al Qur’an. Lagi pula Raka ingin membelikan Al Qur’an baru untuk emak. Al Qur’an yang sekarang sudah kusam ditambah lagi banyak yang sobek halaman-halamannnya. Maka dari itulah Raka rela mengamen untuk menambah uang penghasilan demi memberi hadiah istimewa buat emak.

“Lampu merah, ka!!” teriak Nino si gendut pada Raka. Sementara Raka terhenyak dari lamunannya mendengar suara Nino.Segera, kedua bocah itu langsung berpencar mendekati pintu kaca mobil yang berhenti di stoppan lampu merah. Raka menuju mobil xenia silver sementara Nino menuju Daihatsu yang ada di belakangnya. Tangan Raka  lihai memtik senar gitar yang telah usang itu.

“Bertahan satu cinta, bertahan satu C.I.N.T.A ....,” alunan lagu D’Bagindaz terdengar merdu dari mulut Raka. Raka terus saja menyanyi sampai orang tambun berkumis tipis yang duduk di dalamnya membuka kaca mobil lalu melemparkan selembar uang kertas bergambar Sultan Mahmud Badaruddin II  pada kantong permen milik Raka.

Raka tertegun tak percaya memandangi lembaran itu, termasuk jumlah yang cukup lumayan untuk ukuran pengamen jalanan seperti Raka. Jarang sekali orang-orang yang memberi uang segitu. Paling dari mereka tak jauh dari seribu atau bahkan ada saja yang memberi uang receh dua ratus rupiah.

Baru saja ia mau mengucapkan terimakasih, Sang pemilik mobil langsung menutup pintu kacanya. Hmmm, Raka mendengus tapi kemudian tersenyum kecil. Tak apa, yang pasti pemilik mobil itu masih mau membagikan sedikit rezeki untuknya. Dan ya, meski sekilas pemilik mobil itu terlihat menyeramkan, tapi dia berhati baik juga. Pikir Raka dalam hati. Ah, rezeki... syukuri saja. Lanjut ocehan bathinnya.

Raka melangkahkan kakinya ke mobil-mobil yang lain dengan penuh semangat. Terbayang sebuah kacamata dan alqur’an baru yang akan ia persembahkan untuk emak.

****

Jakarta Minggu pagi ini bergelayut mendung. Jalanan pun begitu  sepi. Hanya beberapa orang saja yang terlihat sedang jalan-jalan pagi menghirup aroma Jakarta.

Pagi ini Raka masih di dalam kamar mungilnya yang masih berantakan. Maklum, semua barang tumplek blek di kamarnya yang tak terlalu besar itu. Malah bisa dikatakan kamar itu terlalu sempit untuk Raka.

Dan ya, sedari tadi, bahkan kemarin, matanya selalu awas dengan sebuah benda yang kini tengah dinilainya sebagai benda paling  berharga dalam hidupnya. Celengan ayam. Betapa tidak, celengan itulah yang nantinya akan mengantarkannya pada senyum emak. Dan yups, celengan itu kini sudah penuh. Ah, emak pasti suka dengan kejutan ini.

Dan braaaak!! Celengan itu resmilah pecah. Dengan cekataan Ia menghitung lembaran dan recehan yang tergeletak berantakan di ubin kamarnya. Alhamdulillah, berkat kegigihannya, akhirnya Raka akan segera membelikan kacamata dan Al Qur’an baru yang ukurannya lebih besar untuk emak.

Ia pandangi wajah tirus emak yang tengah tertidur lelap. Ah emak, terimakasih emak sudah bersedia merawat Raka. Menjadi anakmu adalah hal yang terindah, meski hanya anak angkat semata, tak masalah. Ucap bathinnya lirih sembari menyeka bulir-bulir air mata yang menggenag di sudut matanya.

Hari ini juga, Raka akan pergi ke Optik Kencana untuk membeli kacamata. Dulu emak diperiksa di sini. Dan selanjutnya, Raka akan pergi ke toko buku’Cahaya’ untuk membeli Al Qur’an yang agak besaran untuk emak.

***

“Hai ka, gak ngamen kamu?” seru Nino dari seberang jalan.

“Tidak, hari ni libur dulu. Aku ada perlu!!” jawab Raka setengah teriak.

“Oke, hati-hati ya”

“Siip !!!” Raka mengacungkan jempolnya sambil berlalu.

Raka tersenyum, langkahnya begitu riang. Tak lama, Raka telah berkerumun dengan orang-orang dikeramaian kota.

Ah, ternyata tak sulit menemukan dua benda istimewa itu. Emak pasti sangat senang melihatnya. Tak sabar Raka untuk segera sampai di rumah.

Criiiiiit.... dan braaak!! Suara mobil mengerem mendadak disusul suara benda yang jatuh.

“Hai, kalau jalan hati-hati dong!!” teriak seorang pria dari dalam mobil. Pria tambun berkumis tipis waktu lalu.

Raka hanya menunduk, tak ada yang luka dari Raka. Hanya saja kacamata yang Ia pegang terjatuh. Dan ternyata kacamata tersebut pecah!!. Entah apa yang Ia rasakan, yang pasti remuk redamlah semua asanya. Sementara pria itu tak mempedulikannya. Ia justru melajukan mobilnya lagi tanpa sebuah ma’af sekalipun. Benarkah memang begitulah manusia?? Kemarin Ia sempat terpesona akan kebaikan orang tersebut yang telah memberi uang lebih atas suaranya. Tapi kini?? Ah... banyak misteri kota yang belum mampu ia pahami.

***

“Walahum maqaa mi u’ min hadiid,” Suara Raka masih terdengar nyaring dan masih diikuti dengan suara emak yang mulai parau.

Sekilas Raka memandang wajah emak yang mulai renta. Ah, emak ma’afkan Raka. Meski hanya alqur’an baru  yang bisa Raka beri untuk emak, tapi Raka akan tetap membantu emak untuk mengeja al qur’an.
Raka akan senantiasa setia menuntun emak. Selalu. Dan tentu, tak akan pernah bosan untuk menjadi guide kecil emak.

“Walibaasuhum fiiha khariir...” dan lagi suara Raka masih terdengar nyaring dan diikuti suara emak.(*)